Usaha Terdesak Khalid Samad “Menghalalkan” Anwarinas Langgar Hadi

Khalid Samad sebagaimana yang dipetik dari Malaysiakini telah mendakwa

Baiah yang disebut-sebut dibuat oleh anggota PAS sebenarnya dilakukan untuk mengikrarkan taat setia kepada Allah dan Rasul dan bukannya mana-mana pemimpin, kata anggota Jawatankuasa Pusat PAS, Khalid Samad.

Ini adalah usaha terdesak beliau untuk menghalalkan puak-puak Anwarinas melanggar Haji Hadi. Benarkah dakwaan bahawa taat setia hanya kepada Allah dan Rasul dan bukannya mana-mana pemimpin? Inilah contoh kalimah yang hak, digunakan dengan maksud yang bathil.

Pertama, kita menjawab beliau bukan kerana kita ini penyokong PAS, tetapi kita menjawab Khalid Samad kerana terdapat kesalahan yang nyata dalam dakwaan beliau.

Kedua, dimanakah kita nak letak ayat al-quran “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada “Uli’l-Amri” (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu” [4:59].

Apakah bila YB Khalid Samad membuat fatwa, fatwanya terpilih-pilih menurut keadaan yang mana sesetengah ayat al-quran itu boleh disembunyikan untuk disesuaikan dengan keadaan?

Mungkin YB Khalid Samad akan menjawab, Haji Hadi itu bukan uli’l amri. Kalau macam tu kita nak tanya YB, siapakah uli’l amri bagi YB Khalid Samad. Mungkin Najib kot pasal Najib kan pemimpin negara, ataupun mungkin Anwar Ibrahim?

Ketiga, kalau pun YB Khalid Samad enggan mengaku Haji Hadi sebagai uli’l amri, kenyataan YB Khalid Samad juga penuh dengan penyelewengan. Sejarah Islam menyaksikan perkara yang sama juga berlaku yang mana hujah yang sama juga digunakan oleh puak Khawarij bagi menghalalkan darah Ali r.a. Mereka bunuh Ali r.a. juga atas dakwaan ketaatan itu hanya pada Allah dan Rasul dan oleh kerana Ali r.a. telah menyeleweng dari ketaat pada Allah dan Rasul menurut tafsiran mereka, maka darah beliau halal.

Ketaatan terhadap Allah dan Rasul itu adalah sesuatu yang jelas, masalahnya ialah tafsiran terhadap apa yang dikatakan sebagai taat pada Allah dan Rasul itu adalah subjektif menurut kefahaman serta ilmu individu. Dalam dunia Islam, ada lebih 1 bilion Muslim. Setiap orang mempunyai tafsiran sendiri tentang apa yang layak dikatakan taat pada Allah dan Rasul. Jika pendapat YB Khalid Samad ini diambil, maka setiap orang Islam akan mendakwa orang Islam yang lain tidak taat pada Allah dan rasul.

Inilah kecelaruan serta salah faham dalam pemikiran YB Khalid Samad. Kalimah yang digunakan nampak macam hak, sedangkan maksud dan implementasinya adalah bathil. Islam sebagai agama yang sempurna mengariskan panduan kepada ummah. Dalam ummah itu akan ada yang dipertanggungjawabkan sebagai pemimpin dan ulama. Mereka ini adalah uli’l amri yang mana mereka dipertanggungjawabkan untuk membuat kata putus dalam urusan umat Islam. Dalam hal-hal agama, kita ada para ulama yang mengeluarkan fatwa. Begitu juga dalam hal dunia, kita ada pemimpin yang membuat keputusan bagi jemaah. Oleh itu, sebagai orang yang dipimpin, tugas dan tanggungjawab kita adalah untuk taat pada keputusan dan fatwa yang dibuat pemimpin dan para ulama, selagi mana ia tidak jelas bercanggah dengan hukum Allah dan Rasul. Dengan itu, barulah satu jemaah Muslim dapat berjalan dengan teratur.

Oleh itu, dakwaan YB Khalid Samad adalah ternyata palsu apabila beliau mendakwa ketaat itu hanya pada Allah dan Rasul dan tidak pada mana-mana pemimpin. Malah dakwaan YB ini amat bahaya. Misalnya, dalam petikan tersebut, dikata YB menyebut ““Selagi mana presiden itu patuh pada ajaran Islam, ia OK.” Perkataan “selagi mana presiden itu patuh pada ajaran Islam” itu terbuka pada pelbagai tafsiran individu. Bagi golongan yang anti Haji Hadi, mereka mungkin mentafsirkan Haji Hadi sebagai tidak patuh pada ajaran Islam, dengan itu layak diperangi, sedangkan penyokong Haji Hadi pula mentafsirkan yang sebaliknya. Sejarah Islam juga melihat puak Khawarij mentafsirkan Ali r.a. sebagai tidak patuh pada ajaran Islam sehingga akhirnya Ali r.a. dibunuh oleh puak Khawarij.

Inilah bahananya bila setiap orang merasakan diri mereka layak menjadi jurucakap tentang Islam. Rasulullah s.a.w. mengingatkan kita bahawa diakhir zaman, akan muncul banyaknya golongan Ruwaybidah.

Daripada Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda. “Lagi akan datang kepada manusia tahun-tahun yang tandus (kemarau panjang). Dan pada waktu itu orang yang berdusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan berdusta. Orang khianat akan disuruh memegang amanah dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berpeluang bercakap hanyalah golongan “Ruwaibidhah””. Sahabat bertanya, “Apakah Ruwaibidhah itu hai Rasulullah?”. Nabi saw. menjawab, “Orang yang kerdil dan sebenarnya hina dan tidak mengerti urusan orang ramai”.

(H.R. Ibnu Majah)

 

Are 90% of Malays Extremist?

It is indeed funny to see how the star lined up a band of people whom it called the voices of moderation.

Well I don’t care about the non-Muslim (not Malay) in the line up because it is none of my business to interfere how they want to define the term moderation, but it is kind of appalling to see the Malays in the list. They are

  • Marina Mahathir
  • Zaid Ibrahim
  • Razali Ismail (chairman of Global Movement of Moderates)
  • Zainah Anwar (Sisters in Islam co-founder)
  • Karim Raslan
  • Azmi Sharom
  • Anas Zubedy
  • Wan Saiful Wan Jan
  • Sharyn Shufiyan (Tunku Abdul Rahman’s great granddaughter)

I want to clarify that I have nothing against them personally. What I am against is the people who put them in the list and claimed that they are the voices of moderation that represent the Muslims whereas many Muslims (including me) and Malays are against their thinking and ideology. What more when some of them are well known for carrying ideology that is against the main stream understanding of Islam. Take for example the ladies in the list, whom none is wearing tudung. Zainah Anwar is also known to claimed that covering one’s hair is unnecessary in Islam, whereas the mainstream Muslim understanding all over the world is that it is compulsory. So how can the person ever claimed that Zainah Anwar is the voices of moderation for the Muslim while clearly she is the minority. If Zainah Anwar represents the voices of moderation for the Muslim, does that mean 90% (or probably 99%) of Malaysian Muslim women who believe hair as aurat which needs to be covered in public are the extremist? This is indeed insulting.

I am not sure if the person who put up the list is a Muslim or not, but for me, as a Muslim, it is a blatant misused (and wrongly used) of the term moderation for the Muslim. Firstly, the term moderation is a very misunderstood terminology. Secondly, for the Muslim, the term moderate is a religious definition where there are hadiths from the prophet S.A.W. that explains about the meaning of moderation. Therefore, to put these Malays (Muslims) as role model of moderation is an insult to the Muslim especially when some of them is known to have ideology and understanding of Islam that is against the understanding and practice of the mainstream Muslim.

It is Tolerate, not Moderate

When I dropped the word Moderate into Google, this is what I got

moderate

Moderate, by its adjective definition is the average in amount, intensity, quality, or degree. You cannot have an average if you only have one extreme. For example, what is the average of 10? No one can tell you. But if  you ask what is the average between 1 to 10, then the answer is 5. So we can say that 1 is the extreme to the left and 10 is the extreme to the right. So 5 is the moderate value which is in between the two intensities!

extreams

The misconception comes in the noun definition. It says that moderate is a person who holds moderate views, especially in politics. Now the problem is that views in politics are subjective. What someone view as moderate may not be viewed as moderate by others. For example, to the non-Muslim, a Muslim who is not wearing tudung is a moderate Muslim. To the many Muslims, she is not a good Muslim. To the non-Muslim, a person who drink only in social occasion is a moderate drinker. To the Muslim, if a Muslim drink at any occasion, he is a sinner. People like Marina, Zainah and Zaid Ibrahim may think that they are the moderate, but to the many they are the liberals and to some they are the deviants.

The more correct definition that fits them is Tolerate. These people are not moderate, they are just more tolerable, for example, some are more tolerable to western lifestyle where they don’t mind to wear bikini or drinking in a party with alcohol. So does in political view. Some are more tolerable to opposing views.

There is no point arguing who is indeed the moderate. We can never agree to such a subjective matter. What is unbecoming is for the Star to put up these people and claimed that they are the voices of moderation among the Muslim. it is like the Star trying to shovel the definition Moderation into the throats of Muslim. Who is the Star to tell the world that those people represent the moderate voices of Muslim in Malaysia? That is why I say it is insulting.

A Religious Definition

Islam has clear definition moderation. It is in the Quran and there are numerous hadiths from the Prophet s.a.w. about moderation.

In the Quran, Allah S.W.T. says

“We made you to be a community of the middle way, so that (with the example of your lives) you might bear witness to the truth before all mankind.” (Qur’an, 2:143) 

In one of the hadith,

‘Abdullah ibn Masood (Allah be pleased with him) reported that once Allah’s Messenger (Peace be upon him) drew a line in the dust with his hand and said, “This is the straight path of Allah.” Then he drew a series of lines to the right of it and to the left and said, “Each of these paths has a devil at its head inviting people to it.” He then recited (Qur’an 6:153), “Verily this is my straight path so follow it and do not follow the (twisted) paths.” (Collected by Ahmad, Nisai and Darimi; see Mishkat ul-Masabih, 1/166)

If you look back at the adjective definition, you will understand better the concept of moderation in Islam. In every moderation, there is always an extreme left and extreme right. So the moderate is the middle path in between the extremes. Picture speaks a thousand word. By looking at the picture below, you should understand better. This is off course according to Ahlul Sunnah definition.

moderate2

What it clearly tells you is that Zainah, Marina, and the other ladies in the list are not the moderate according to the Muslim standard. They are indeed the extremists, the liberals!

I will list few more examples of moderation in Islam

Extreme Left Moderate Extreme Right
Marriage
Priesthood, complete refrain from marriage Marriage up to 4 wives (in this respect, Sister in Islam by Zainah Anwar is against polygamy, so she is not the moderate) More than 4 and unlimited number of concubines
Relationship with Non-Muslim
Extreme enimity against non-Muslim irrespective of whether they have peace agreement with the Muslim or not. Treat and deal with those who have peace agreement with Muslim with kindness, honor, respect. Befriend those who are an obvious enemy to Muslim who are known of ploting to destroy Islam and the Muslim
Ibadah
Monastery life, i.e. spend whole life doing nothing except in prayer and worship Balance between worldly life and time spend in prayer and worship of God Only focus on world life and ignore worshipping of God
Charity
People who give everything and left nothing for themselves Give some part of their wealth for charity and keep the remaining for own use Do not give charity or alms at all

So it is not difficult to understand moderation in Islam. It is something very clear cut and obvious. There is a law in Islam. Some will take it extremely lightly and some will take it rigidly. The moderate is the one who take the middle path.

Trying to tell Muslim how to practice Islam

This is the alter ego and ignorance of many of the non-Muslim today. What exhibit by the Star is the result of this alter ego. They believe these few figures are the “moderates” so they put them as the moderate voices of Malaysia without an iota to think if the mainstream Muslim actually agree with them. Arrogance is one thing, but such ignorance is unacceptable. Even for those non-Muslims, do you think they really represent the voices of moderate among the non-Muslims? Don’t they know that Zainah is one of the most loathe personality among the mainstream Muslim community in Malaysia. How can you ever shovel such person into throats of Muslim forcing them to accept her as role model. This is an utter demonstration of low class journalism.

You are also welcome to read

The Problem with Moderate Movements in Malaysia

Krisis Selangor – Episod Kebodohan Politik Pas

Krisis Selangor menampakkan episod kebodohan politik PAS. Akibatnya, PAS hari ini dimalukan dengan semalu-malunya, khususnya presiden Pas dan golongan Ulama. Ini adalah lantaran kebodohan politik dan sikap tergesa-gesa.

Kebodohan politik Pas dalam menangani isu Selangor adalah seperti berikut

1. Apabila presiden PAS secara terbuka memberikan sokongan pada Khalid Ibrahim, PAS tidak sepatutnya mengadakan mesyuarat lagi. Mengapa bermesyuarat tentang sesuatu keputusan yang sudah di nyatakan oleh presiden parti? Tidak penting sama ada keputusan itu betul atau tidak, apabila suatu keputusan itu dibuat secara terbuka oleh Presiden, maka tidak sepatutnya ada lagi mesyuarat untuk membincangkan keputusan tersebut. Kalau keputusan mesyuarat itu bercanggah dengan keputusan presiden, nescaya amat malu presiden parti, dan inilah yang berlaku.

Haji Hadi kalau beliau ada maruah sepatutnya meletak jawatan sebagai presiden Pas. Ini kerana, secara terang-terang beliau tidak mendapat sokongan dari ahli majlis tertinggi PAS dan keputusan beliau jelas tidak lagi dihormati. Apakah Haji Hadi tidak malu menjadi presiden Pas yang tidak mendapat sokongan dari ahli majlisnya dan keputusan yang dibuat beliau tidak dihormati?

2. Apabila presiden sudah membuat keputusan, majlis syura tidak sepatutnya bermesyuarat lagi, apatah membuat satu mesyuarat sebelum mesyuarat majlis tertinggi. Ini akan memberikan gambaran terdapat beberapa kumpulan membuat keputusan dalam Pas dan kumpulan ini mempunyai kecenderungan yang berbeza.

Tetapi akibat kebodohan politik, kesalahan sedemikian dilakukan. Hasilnya, majlis syura ulama juga dimalukan oleh keputusan yang dibuat oleh majlis tertinggi. Ia juga menggambarkan bahawa dalam Pas ada pihak-pihak berbeza yang membuat keputusan untuk parti dan dalam masa yang sama keputusan ini mungkin tidak sah.

Tidak bolehkah Pas menyelesaikan kemelut mereka secara dalaman dan mengumumkan satu keputusan yang diambil oleh parti? Tetapi nampaknya dalam Pas sendiri ada pihak-pihak yang berkepentingan yang membuat keputusan berdasarkan kecenderungan politik sendiri.

Inilah kebodohan dalam politik Pas yang ditonjolkan dalam krisis Selangor. Sama ada puak Anwarinas bergembira dengan keputusan majlis tertinggi tidak penting. Yang penting, kita lihat kebodohan parti Pas sendiri. Bagaimana kita mahu mengamanahan negara dan agama pada puak-puak ini kalau perkara yang begitu asas pun kita lihat Pas kantoi dengan sekantoi-kantoinya. Saya pun tidak tahu bahana apa yang sedang dialami oleh Pas, tetapi jelas, Pas pada hari ini adalah berada ditahap yang sehina-hinanya.

 

 

Apabila Ada Manusia Mendakwa Politiknya ialah Politik Rahmatul Lil ‘Aalamin

Baru aje buat post dah ada follow up issue. Ikuti Update di penghujung post

Masih belum habis lagi kita dengan Khalid Samad. Dalam posting blog beliau yang selanjutnya, beliau mendakwa

Persoalannya sekarang, adakah ianya “politik songsang” sepertimana yang Zam-kata; atau politik Rahmatul Lil ‘Aalamin sepertimana yang dikatakan oleh Allah di dalam Al-Quran yang bermaksud

http://www.khalidsamad.com/2014/07/sandiwara-politik-umno.html

Khalid Samad tidak segan silu memberi gambaran seolah-olah politik yang dibawanya adalah politik Rahmatul Lil ‘Aalamin padahal, ayat yang di petik beliau

“Dan tiadalah Kami mengutuskan engkau (wahai Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam” (Al-‘Anbyā’ 21:107).

jelas merupakan ayat yang ditujukan kepada Nabi Muhammad S.A.W. Apakah beliau mahu memberikan gambaran bahawa segala tindak-tanduk beliau adalah adalah tindak tanduk yang selaras dengan sifat Rahmatul Lil ‘Aalamin sebagaimana perutusan Nabi Muhammad S.A.W. oleh Allah S.W.T. kepada umat manusia?

Saya tidak mahu mengulas lanjut dalam hal ini, tapi cukuplah untuk saudara pembaca semua nilaikan sendiri, apakah kewajaran seorang manusia biasa menggunakan ayat yang ditujukan pada Nabi Muhammad S.A.W. untuk disandarkan pada tindak tanduk diri sendiri.

Kita letak hal di atas ke tepi untuk nilaian pembaca. YB Khalid mungkin merasa seolah-olah politik diri sendiri adalah Rahmatul Aalamin. Ini kerana puji-pujian oleh orang kafir terhadap tindak tanduk YB. Tapi hakikatnya ramai orang Islam sendiri menyampah dengan tindak tanduk YB. Kalau kita lihat dakwah Nabi Muhammad S.A.W., jelas beliau diperangi oleh orang Kafir. Memang ada orang kafir yang tidak memerangi beliau, tetapi peratusan yang memerangi beliau jelas lebih dari yang tidak.

Hakikat politik Khalid Samad berbeza sama sekali kerana dalam politik beliau, orang kafir melemparkan puji-pujian terhadap beliau, sedangkan ramai orang Islam menyampah dan mencaci beliau. Jadi bagaimana seseorang itu boleh tergamak untuk menggunakan istilah yang diberikan Allah S.W.T. kepada Nabi Muhammad S.A.W. sedangkan tidak tanduknya jelas berbeza. Disini aje pun kita boleh nampak ada benda yang tak kena.

Dalam dakwah Nabi S.A.W. pun, sekiranya baginda tunduk pada kehendak puak kafirun, nescaya beliau juga akan mendapat puji-pujian dari puak kafir. Sama juga dalam kes hari ini. Nak orang bukan Islam puji bukan susah, sama juga nak puak gay puji bukan susah. Sokong aje apa yang dia orang suka, mesti dia orang puji. Lepas tu mendabik dada kata akulah pembawa politik Rahmatul Aalamin.

Kepada Khalid Samad, cukup-cukuplah dalam berpolitik menggunakan agama. Jangan cepat mengambila ayat-ayat Quran atau kisah-kisah seerah untuk dijustifikasikan pada tindak tanduk diri sendiri padahal mungkin tindakan kita ini jelas bercanggah dengan ayat mahupun seerah yang kita cuba guna. Akhir sekali, apakah kelayakan kita sebagai manusia untuk secara sewenang-wenang untuk memberikan gambaran seolah-olah tindak tanduk kita ini dijustifikasikan oleh ayat-ayat Quran?

UPDATE

Baru aje habis posting, ternampak pula tweeter KS ini di blog http://darulehsantoday.blogspot.com/2014/07/khalid-samad-sedih-ajk-surau-dan-masjid.html

Bagaimanakah seseorang itu boleh mendabik dada mengatakan politik beliau seolah-olah politik Rahmatul Alalamin sedangkan 40 surau dan masjid beliau pergi, orang Islam dok caci dia.

Lebih malang, kita lihat tweet beliau sendiri. Golongan yang hati ditutup Allah? Wow. Apakah Khalid dapat wahyu dari Allah yang beliau ketahui hati siapakah yang ditutup Allah? Apakah kalau tak sokong tindakan beliau, hati sudah di tutup Allah?

Antara dosa yang paling besar ialah memperkatakan tentang Allah sesuatu yang kita tidak ketahui mengenainya. Mendakwa Allah menutup hati orang tertentu sedankan kita tidak ada ilmu mengenainya adalah termasuk dalam salah satu tindakan tersebut. Di sini saja kita lihat kecetekan ilmu Khalid Samad kerana orang yang cetek ilmu akan mendakwa sesuatu tentang Allah S.W.T. secara sewenang-wenangnya.

P.S. Teringat seorang blogger PAS bernama Tulang Besi yang perangai tak ubah dalam hal ini. Patutlah beliau tu penyokong tegar si Khalid Samad

RE: Kenyataan Akhbar Khalid Samad

YB Khalid Samad memberikan kenyataan akhbar yang boleh dirujuk pada blog beliau.

Akan tetapi, kenyataan akhbar beliau menimbulkan lebih banyak kemusykilan. Berikut adalah beberapa point yang perlu diberi perhatian.

Cadangan ini dikemukakan kerana yang selalu menimbulkan masalah adalah dari sudut perlaksanaan, samada berhemah atau sebaliknya.

Masalahnya ialah takrifan berhemah atau sebaliknya. Bagi khalid samad, ia berhemah apabila ia menurut acuan saudara dan tidak berhemah sekiranya tidak menepati selera saudara. Umpamanya dalam kes rampasan bible, bagi YB khalid ia tidak berhemah, tetapi bagi kebanyakan orang Islam, ia memang patut. Jadi apakah MAIS ini perlu menurut telunjuk YB Khalid dalam menentukan mana itu hemah dan mana itu tidak? Itulah sebabnya Sultan kata Khalid biadap.

Cadangan yang saya kemukakan bertujuan menyelamatkan Tuanku dari cemuhan

Bukankah Khalid sendiri tweet kata lebih takut kepada murka Allah daripada murka manusia. Jadi apakah YB Khalid mahu menasihati baginda Sultan supaya takutkan “murka” manusia dalam bentuk cemuhan (khususnya puak-puak kafir dari RBA) daripada murka Allah? BTW, apakah YB Khalid mempunyai lesen untuk menentukan Allah murka pada siapa? Barangkali orang yang YB anggap mendapat murka Allah itulah yang sebenarnya berada diatas jalan yang benar. Jadi tindakan YB Khalid jelas merendahkan martabat Sultan kerana YB menganggap seolah-olah hanya diri sendiri yang takut pada murka Allah sedangkan baginda Tuanku perlu takut pada cemuhan manusia.

Hakikatnya cemuhan manusia itu sudah pasti, apatah dari puak-puak RBA yang jelas amat anti Islam (dan Raja-raja). Kalau MAIS dan baginda tuanku perlu takut pada cemuhan golongan ini, nescaya mereka tidak akan dapat mempertahankan kesucian agama Islam. Akhirnya orang Islam akan tunduk pada kehendak puak-puak kafir ini dan segala betul dan salah bagi umat Islam adalah menurut apa yang tidak dicemuh puak-puak ini. Kalau mereka sokong LGBT, orang Islam pun kena sokong (macam YB pas seorang tu). Lepas tu dapat pujian puak-puak ini. Apakah ini versi yang YB mahu?

Harus YB ingat, bagi YB, mungkin tidakan MAIS itu tidak betul. Tapi itu adalah persepsi YB semata-mata dan orang lain pun ada persepsi sendiri. Oleh itu, bila YB mendesak kuasa MAIS dirombak semata-mata menurut persepsi YB yang mereka itu tak betul, itu yang dikatakan menghina Sultan. Ia seolah-olah memberi gambaran bahawa Sultan dan penasihat-penasihatnya tidak mampu memberi nasihat pada MAIS.

Akhir sekali, cadangan YB akan merosakkan peranan MAIS itu sendiri. MAIS sepatutnya bebas dari pengaruh kerajaan kerana kerajaan itu ditentukan oleh ahlinya yang mungkin terdiri dari orang yang bukan Islam, orang Islam liberal, dll. Kalau kerajaan itu sokong LGBT, apakah MAIS juga perlu turut? Bagaimana MAIS mahu mempertahankan kesucian Islam kalau ia terpaksa menurut kehendak dewan yang dipengerusikan oleh seorang evangelist Kristian.

Antara Mujahid dan LGBT

Mujahid sebagai pemuka utama orang Islam yang berlatar belakang agama dalam MKPN beria-ia mempertahankan golongan LGBT.

Kata Mujahid
“Ia (LGBT) duduk di bawah gender dan kita tidak boleh mendiskriminasikan seseorang itu atas asas jantina.

Dalam jantina itu kita sebut orientasi seksual antara lainnya.

Ini saya perlu jelaskan tidak ada kena mengena langsung dengan mengiktiraf LGBT tetapi ia hanya mengatakan bahawa seseorang tidak boleh didiskriminasikan atas kecenderungan seksual.

Saya sebagai orang Islam tidak mungkin saya mengatakan LGBT bagus, tetapi itu bukan bermakna saya menindas dia.

Itu dua benda yang berbeza, saya rasa dalam Islam pun benda itu diakur (tidak betul).

Saya tidak suka dia (pengamal LGBT) tetapi saya kena pertahankan hak dia. Ya kamu gay, saya tak suka akan perkara itu tetapi ia tidak betul jika kamu diberhentikan (kerja) kerana perkara itu,” katanya.- Mkini.

Banyak sangat kecelaruan dalam hujah beliau.

Kata beliau
“Ini saya perlu jelaskan tidak ada kena mengena langsung dengan mengiktiraf LGBT tetapi ia hanya mengatakan bahawa seseorang tidak boleh didiskriminasikan atas kecenderungan seksual.”

Persoalan pertama,
Katakan kecenderungan seseorang itu ialah homoseksual, lesbian, pedophile (seks dengan kanak-kanak), bestiality (kecenderungan seks dengan binatang), jadi adakah atas kefahaman Mujahid, kita tidak boleh mendiskriminasikan kecenderungan seksual sedemikian?

Mungkin nanti ada yang kata, oh cuma homoseksual dan lesbian aje, tapi tidak pada pedophile and bestiality. Masalahnya ialah atas dasar apa untuk menghalangnya sedangkan itu semua termasuk dalam kecenderungan seksual?

Persoalan kedua,
Dalam Quran, Allah S.W.T. menghukum kaum Lut disebabkan kecenderungan seksual mereka terhadap homoseksual. Jadi apakah Al-Quran salah dalam menghukum manusia atas kecenderungan seksual mereka?

Persoalan ketiga
Sekiranya diterima saranan Mujahid, jadi seorang cikgu boleh secara terbuka menyatakan kecenderungan seksualnya (homoseksual atapun pedophile) dan beliau tidak boleh dibuang kerja atas kecenderungan seksual beliau. Jadi anda semua bayangkan anak anak anda di duduk disekolah yang diajar oleh seorang cikgu yang secara terbuka mengaku sebagai pedophile.

Hakikatnya segala saranan LGBT ini tidak ada kena mengena dengan gender. Sekian lama kita biasa bekerja dengan golongan mak nyah. Disekolah, universiti, tempat kerja, malah ada yang menjadi pesonality tv. Tidak ada masalah. Tidak ada diskriminasi dari segi perundangan dan peluang, walaupun mungkin diskriminasi berlaku dalam aspek sosial. Jadi dakwaan Mujahid dalam diskriminasi gender adalah satu kepalsuan.

Yang sebenarnya tuntutan LGBT adalah sama seperti gerakan gerakan LGBT di barat yang mana mereka mahu menuntuk persamaan hak dari segi pengiktirafan status perkahwinan dan juga hak untuk secara terbuka menyatakan orentasi seksual mereka.

Amat malang hari ini kita lihat orang seperti Mujahid, seorang anak ulama dan ahli politik PAS menjadi pemuka bagi meneruskan agenda LGBT. Mujahid sepatutnya bermuhasabah diri dan jangan terlalu ingin sangat menagih pujian dari golognan sekular tidak bertuhan yang hanya ciplak segala yang dibuat oleh polopor ideologi human right dan LGBT dari barat.

Japan has Robbed our Victory

That is according to a politician calculation. We should ask Bersih to protest against the Badminton World Federation for allowing Japan to rob Malaysia their victory in 2014 Thomas Cup. Don’t believe me, see the chart below

Players (Malaysia vs Japan) Malaysia Japan
Lee Chong Wei vs Kenichi Tago 21 12
21 16
Tan Boon Heong and Hoon Thien How vs Kenichi Hayakawa and Hiroyuki Endo 21 12
17 21
19 21
Chong Wei Feng vs Kento Momota 15 21
17 21
Goh Shem and Tan Wee Kiong vs Keigo Sonoda and Takeshi Kamura 19 21
21 17
21 12
Daren Liew vs Takuma Ueda 12 21
21 18
17 21
Total Points Collected 242 234

Come on BWF, this is unfair. This is undemocratic. We won’t by the “popular point”. We collected more points than Japan. How come they still win the Thomas Cup. You have let Japan robbed our victory.